Aqiqah Tangerang Murah – Menjadi orang tua adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah SWT. Kelahiran seorang anak merupakan peristiwa yang membahagiakan bagi orang tua, kakek nenek, saudara kandung, dan sahabat. Mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi yang baru lahir, memilihkan nama yang baik untuknya, melakukan khitanan, mencukur rambut bayi yang baru lahir, dan melakukan aqiqah adalah beberapa cara untuk bersyukur kepada Allah SWT.
Menurut terminologi Islam, Aqiqah adalah cara terbaik untuk merayakan kelahiran anak Anda, karena itu adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui aturan melakukan Aqiqah untuk bayi mereka yang baru lahir. Artikel dari Karima Aqiqah Tangerah murah ini menampilkan informasi penting tentang melakukan Aqiqah, tujuannya, dan aturan Aqiqah untuk bayi perempuan dan bayi laki-laki dalam Islam. Baca terus sampai akhir agar Anda tidak melewatkan apa pun tentang aturan Aqiqah.
Apa itu Aqiqah?
Dalam terminologi Islam, Aqiqah diartikan sebagai hewan kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Setelah disembelih, dagingnya disajikan dalam bentuk masakan kepada kerabat, sahabat, dan juga tetangga di lingkungan rumah Anda. Sebagai ritual keagamaan, Aqiqah dilakukan untuk bayi yang baru lahir oleh orang tuanya sebagai cara menunjukkan rasa terima kasih kepada Allah SWT. Aqiqah juga dilakukan untuk melindungi bayi yang baru lahir dari gangguan setan dan menangkal penyakit.
Aqiqah harus dilakukan oleh setiap Muslim dewasa yang memenuhi syarat (yang memiliki cukup dana atau memiliki kemampuan ekonomi yang bagus). Pada hari Aqiqah diselenggarakan, rambut pada kepala bayi dicukur, dan sedekah diberikan sesuai dengan nilai dari berat rambut dalam satuan harga emas atau perak.
Apa Tujuan Melakukan Aqiqah?
Karena sangat penting dalam Islam, Aqiqah untuk bayi yang baru lahir harus dilakukan karena dua alasan utama:
- Bersyukur atas nikmat dari Allah SWT
- Mendekatkan diri kepada Allah SWT
Telah diriwayatkan dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW bahwa: “Setiap anak tergadaikan untuk Aqiqahnya.” (HR An-Nasa’i 4220)
Nabi Muhammad SAW dan paras Sahabatnya biasa melakukan Aqiqah pada bayi yang baru lahir. Bahkan Rasulullah SAW melakukan Aqiqah untuk cucunya, Al-Hassan RA dan Al-Hussain RA. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas RA bahwa: “Nabi Muhammad menyembelih seekor domba jantan untuk Hasan dan Husain (saat mereka lahir).” (HR Abu Dawud 2841)
Dari sini, Aqiqah telah menjadi Sunnah Nabi Muhammad SAW yang sangat direkomendasikan / dianjurkan dan dicintai. Pelaksanaan Aqiqah tidak wajib (Fardhu ‘Ain), tetapi dianjurkan (Sunnah Muakkad).
Baca Juga: Perhatikan Aturan dan Fiqh dari Aqiqah Berikut Ini
Kapan Aqiqah Harus Dilakukan?
Idealnya dan lebih diutamakan, aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran bayi. Namun, jika seseorang tidak dapat melakukan aqiqah pada hari ke 7, mereka dapat melakukannya pada hari ke 7 berikutnya (hari ke-14 atau ke-21). Samurah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW SAW berkata: “Setiap anak laki-laki digadaikan dengan “Aqiqahnya”, maka sembelihlah (hewan) untuknya pada hari ketujuh, cukur rambutnya, dan beri nama.” (HR Abu Dawud 2838)
Banyak ulama mengatakan bahwa Aqiqah dapat dilakukan sampai seorang anak menginjak dewasa. Namun, melakukan Aqiqah tidak relevan setelah dia dewasa meskipun ulama memperbolehkannya. Tidak ada salahnya dan tidak mendapat dosa dalam melakukan Aqiqah terlambat, tetapi harus dilakukan sesegera mungkin.
Beberapa ulama telah memberikan Fatwa bahwa Aqiqah harus dilakukan sampai seseorang meninggal. Beberapa ulama menyatakan bahwa seseorang dapat melakukan Aqiqahnya sendiri jika itu tidak dilakukan ketika dia masih kecil. Tetapi menurut sebagian ulama, ini tidak sah.
Aturan Aqiqah dalam Islam
- Aqiqah dilakukan oleh orang tua atau wali dari bayi yang baru lahir pada hari ketujuh, ke-14, atau ke-21 setelah lahir. Rambut anak dicabut.
- Bayi diberi rasa madu (mencerminkan manisnya Al-Qur’an).
- Aqiqah dilakukan untuk menyucikan jiwa bayi yang baru lahir. Setelah dilakukan, anak harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan tetap setia kepada Allah (SWT).
Aturan Aqiqah berbeda untuk bayi perempuan dan bayi laki-laki. Mari kita simak sama-sama!
1. Aturan Aqiqah untuk Bayi Laki-Laki
Berikut ini adalah beberapa aturan Aqiqah untuk bayi laki-laki:
- Aqiqah adalah cara merayakan kelahiran anak. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan pada hari ke 7 kelahiran bayi. Jika hari ketujuh jatuh pada hari Jumat, maka aqiqah harus dilakukan pada hari berikutnya (Sabtu).
- Satu hal penting: Rambut pada kepala bayi dicukur saat merayakan Aqiqah. Potongan rambut adalah simbol pemurnian dan kesiapan untuk shalat.
- Untuk Aqiqah, dua hewan dikorbankan untuk setiap bayi laki-laki.
Sebelum melakukan Aqiqah, penyembelih berniat atas nama bayi dan membaca Do’a.
2. Aturan Aqiqah Untuk Bayi Perempuan
Aturan aqiqah untuk bayi perempuan sama dengan bayi laki-laki, tetapi hanya ada satu perbedaan: hanya satu hewan yang disembelih, bukan dua. Penyembelih kemudian membacakan Do’a yang biasa dibacakan sebelum menyembelih hewan.
Oleh sebab itu Karima Aqiqah Tangerah murah hadir untuk membantu Anda dalam melaksanakan ibadah yang satu ini. Ada banyak sekali alasan mengapa Anda harus menggunakan jasa aqiqah dari Karima Aqiqah selain memudahkan Anda dalam melaksanakan aqiqah.
Diantaranya adalah sistem pembayaran yang aman secara COD, cara pemesanan mudah karena secara online melalui WA saja, tata cara dan pelaksanaan sesuai dengan tuntunan syariat, dan masih banyak lagi keuntungan lainnya saat Anda menggunakan Karima Karima Aqiqah Tangerah murah. Jadi hubungi kami sekarang juga atau langsung ke kantor kami yang informasinya ada di halaman ini.



